<!-- Start of Zendesk Widget script -->
<script id="ze-snippet" src="https://static.zdassets.com/ekr/snippet.js?key=0e08410c-3de9-4186-8072-b8862cb6a717"> </script>
<!-- End of Zendesk Widget script -->

ARI ARU RENALDI : FROM BANDUNG WITH LOVE

4
Sep

ARI ARU RENALDI : FROM BANDUNG WITH LOVE

4 September 2018

Ari Renaldi atau yang biasa dikenal dengan nama Ari Aru, adalah salah satu sound engineer dan music producer dari bumi sangkuriang Bandung. Dibalik kesederhanaan dan keramahannya Ari menyimpan segudang prestasi yang membuat Ari bersama studio Aru dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Nusantara ini. Berikut ini adalah pembicaraan yang santai dari redaksi Audio Station bersama Ari Aru Renaldi.

Halo, kang Ari apa kabar?

Kabar baik, alhamdulillah.

Lagi sibuk apa apa aja skrg? Cerita sedikit dong.

Saat ini saya tengah mengerjakan beberapa project, producing dan mixing, baru saja merampungkan produksi single terbaru Tulus dan juga Vidi Aldiano, dan beberapa penyanyi baru yang rencananya akan dirilis akhir tahun ini.

Kalo boleh tahu, gimana awal karir kang Ari di dunia audio dan music production di Indonesia?

Awal karir saya di bidang audio production dimulai sejak saya kecil, kebetulan ayah saya memiliki usaha sound system dan studio latihan/rekaman, yang hingga kini usaha tersebut masih saya lanjutkan (@AruStudio). Saat itu saya ikut membantu menjadi sound engineer untuk acara-acara seperti wedding, 17an, dll. Selain itu saya mulai aktif bermain drum, dan dari sana saya mempelajari seluk beluk live audio production, karena ketidakpuasan dan penasaran akan sound yang dihasilkan selama ini.
Lalu ketika saya kuliah, saya bermain bersama Project Pop, Glenn Friedly, R42, dan Rio Febrian, dimana saya belajar dan mendapatkan pengalaman utk sound production dan juga music arrangement/production. Saya mulai mencoba mengerjakan mix dari beberapa teman termasuk band saya sendiri, 4Peniti, dan itu berlanjut menjadi professional mixing engineer hingga sekarang,

Kalo tidak salah kang Ari pernah ikutan short course Michael Brauer di Paris bareng Mas Piyu dan Bang Joseph Manurung? Gimana pengalaman disana?

Betul, alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti mixing workshop ‘Mix With The Masters’ bersama Michael Brauer (Coldplay, Colbie Caillat, Luther Vandross, John Mayer) di St. Remy de Provence, Prancis. Lucunya itulah kali pertama saya bertemu dengan Bang Joseph Manurung dan Mas Piyu.
Di sana kami bertiga, dan beberapa peserta lain dari seluruh dunia, mengikuti seminar dari Michael, dimana beliau menerangkan metode beliau dalam mixing, salah satunya multibus compression, atau istilah beliau, “Brauerize“, yang menggunakan berbagai macam compressor ketimbang equalizer, untuk mendapatkan berbagai macam karakter sound yang diinginkan.
Mungkin world class engineer mempunyai visi dan mindset berbeda dengan umumnya di Indonesia pada saat audio production? Dan apa yang paling berkesan?

Betul, untuk saya pribadi, justru yang saya dapatkan dari Michael adalah mindsetnya, pendekatan beliau untuk suatu lagu, dimana yang diutamakan adalah sensasi dari suatu mix, bukan (hanya) sound yang bagus, sehingga dapat menyentuh hati pendengarnya. Mayoritas penikmat musik (kecuali audio engineer :D) tidak akan membeli album karena sound kicknya bagus, atau vokalnya bening, tapi lebih ke apa yang dia rasakan pada saat mendengarkan lagu: dari lirik, suasana lagu, aransemen, melodi yang indah. Dan tugas mixing engineer dan seluruh pelaku produksinya (recording engineer, musisi, produser, aranjer) adalah untuk menyampaikan pesan lagu itu secara utuh.

Banyak orang tahu kalo kang Ari adalah music producer dan juga audio producer utk sebuah band yang cukup melegenda di generasi muda yaitu Mocca, bisa ceritain pengalaman dari mulai berkenalan dan juga pengalaman bekerja dengan mereka?

Saya dengan Arina (vokalis Mocca) sudah berteman sejak kecil, dan ketika dia bersama Riko, Toma dan Indramembentuk Mocca, mereka selain sering berlatih di studio saya. Dari pertemanan itu juga mereka akhirnya melibatkan saya untuk produksi album mereka. Kami banyak bertukar pikiran mengenai ide-ide musikal, dan juga sound. Ketika itu mereka tidak memikirkan pasar atau industri musik saat itu, menawarkan ke major label juga tidak, karena sudah pasti tidak akan diterima hehehehe. Apalagi saat itu hampir tidak ada musisi yang membawakan lagu2 berbahasa Inggris, sedangkan Mocca 1 album semuanya bahasa Inggris </p>
                <!-- AddThis Button BEGIN -->
                <div class=