<!-- Start of Zendesk Widget script -->
<script id="ze-snippet" src="https://static.zdassets.com/ekr/snippet.js?key=0e08410c-3de9-4186-8072-b8862cb6a717"> </script>
<!-- End of Zendesk Widget script -->

MAXIMIZING YOUR ELECTRIC GUITAR RECORDING

4
Sep

MAXIMIZING YOUR ELECTRIC GUITAR RECORDING

4 September 2018

Category: General

Halo Audioholic..

Kali ini kita akan belajar bersama tentang merekam gitar elektrik. Instrumen ini mungkin paling jarang dibahas karena saat ini sudah banyak teknologi yang ‘mempermudah’ metode perekaman gitar elektrik. Sebut saja dengan menjamurnya plug-in amp simulator yang saat ini sudah jamak dipakai dalam industri rekaman atau bahkan simulator gitar seperti yang dirilis oleh pabrikan Line 6 yang memungkinkan kita memiliki banyak ‘gitar’ dalam satuphysical guitar. Di artikel ini kita akan membahas teknik fundamental dalam merekam gitar elektrik, yaitu dengan amplifier dan tentu saja, mikrofon. So, mari kita bahas satu persatu faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil rekaman gitar elektrik.

1. Anatomy of Electric Guitar

Sebagai audio engineer, tidak ada salahnya kalau kita mengenal bagian dari gitar elektrik. Mungkin kita tidak perlu mengetahui secara detail per bagian gitar itu sendiri, namun ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi suara dari gitar itu sendiri. Faktor-faktor itu adalah :

  • Body

Secara garis besar, body gitar dibagi menjadi 3 jenis, yaitu solid body, semi-hollow dan hollow body. Pada awalnya, gitar elektrik memiliki hollow body, dimana pada dasarnya konstruksi ini adalah gitar akustik dengan soundhole yang ditutup dan diberi pickup. Contoh gitar hollow body adalah Gibson L5, seperti yang dipopulerkan oleh Wes Montgomery. Karakter dari gitar ini adalah sound clean yang tebal, dan sangat rentan terhadap feedback dari amplifier karena dia memiliki rongga resonansi di body gitarnya.

Seiring berkembangnya zaman, konstruksi ini disempurnakan menjadi semi-hollow, dimana gitar hollow body tersebut diberi blok kayu di rongga resonansinya untuk mencegah feedback. Karakter dari gitar ini adalah sound yang sedikit lebih bright (semakin tipis bodynya, semakin bright) dari hollow body, dan memiliki sustain yang lebih panjang dari gitar hollow body.

Yang terakhir adalah solid body yang merupakan blok kayu padat, tanpa adanya rongga resonansi seperti yang ada dalam gitar semi-hollow atau hollow body. Karakter dari gitar solid body ini adalah sound yang lebih solid dan sustain yang lebih panjang.

  • Pickup

Bagian ini adalah bagian paling krusial dalam gitar elektrik itu sendiri, karena pickup adalah bagian yang mengeluarkan suara menuju ke amplifier, dan jenis pickup mempengaruhi hasil keluaran suara dari gitar itu sendiri. Berikut ini adalah jenis pickup yang lazim digunakan pada gitar :

  • Single Coil

Pickup single coil adalah pickup yang memiliki output rendah, suara yang relatif tipis dan respon pada frekuensi high yang baik, sehingga dapat menimbulkan suara yang ‘twang’ seperti lazim kita temui pada Fender Stratocaster dan Telecaster. Saat ini banyak pickup single coil yang memiliki output yang lebih besar dari pickup single coil standar, dan populer di kalangan gitaris rock yang ingin memiliki tone khas single coil untuk distorsi tanpa bermasalah dengan feedback berlebih.

  • Humbucker

Sesuai dengan namanya, pickup ini memang didesain khusus untuk mengurangi hum/noise yang seringkali muncul pada pickup single coil. Jenis pickup ini sendiri mulai populer sejak diperkenalkannya pickup ini pada Gibson Les Paul dan gitar produksi Gretsch. Memiliki output yang lebih tinggi dan sound yang lebih gemuk, pickup jenis ini menjadi pilihan utama para gitaris rock dan jazz yang menginginkan sound yang lebih gemuk.

  • P90

Pickup P90 adalah versi single coil dari pabrikan Gibson, seperti yang bisa kita lihat pada Epiphone Casino, Les Paul Goldtop dan maupun Fender Jazzmaster. Memiliki sound yang lebih bright dari humbucker, meski tidak sejernih single coil, pickup ini memiliki respon frekuensi pada midrange yang lebih baik dari single coil dan humbucker. Di era sekarang ini, gitar dengan pickup P90 menjadi pilihan utama para gitaris yang mencari sound yang ‘jangly’.

 

2. Choosing The Right Amplifier

Amplifier adalah faktor terpenting kedua yang menentukan sound gitar. Pada dasarnya, amplifier dibagi menjadi dua, yaitu tube dan solid state. Secara tidak langsung, pembagian jenis amplifier itu mengarah pada dua karakter sound yang berbeda, yaitu British dan American. Mari kita gunakan term ini dalam penjelasan selanjutnya agar mudah lebih dipahami!

Karakter sound British adalah karakter sound yang lebih ‘mendem’ dan memiliki sound yang lebih fat, baik untuk clean maupun overdrive. Hal ini disebabkan oleh amplifier buatan Inggris yang biasanya menggunakan tabung baik untuk preamp maupun power amp. Contoh ampli yang menghasilkan sound British adalah Vox AC15, Vox AC30, Orange Rockerverb, Matchless DC30, Marshall JCM Series, Marshall Plexi, dll.

Karakter sound American untuk clean biasa disebut dengan ‘tweed’ yang juga bersinonim dengan karakter ampli Fender seperti Bassman, Champ bahkan Twin (yang terkenal dengan Twin Reverb-nya). Masih menggunakan tabung, amplifier ini dikenal dengan sound clean yang jernih dengan brilliance yang kaya. Lalu, di era 2000an populer pula ampli solid state seperti Mesa Boogie seri Rectifier yang dikenal sebagai penghasil sound distorsi hi-gain Amerika, dimana ampli solid state memiliki suara yang lebih kasar pada tone distorsi, sekaligus lebih jernih pada clean seperti pada Roland Jazz Chorus.

Setelah mengetahui karakter amplifier, semua tergantung kebutuhan anda. Mix and match adalah solusi yang bijak untuk menghasilkan sound gitar yang terbaik bagi kebutuhan anda.

3. Microphone & Micing Technique

Setelah faktor dari instrumen bisa dipecahkan, mari kita mengcapture suara yang kita inginkan. Menguasai pengetahuan dasar tentang mikrofon dan teknik micing adalah solusi yang terbaik bagi para engineer untuk mencari sound yang diinginkan.

Sedikit refreshing, mari kita mengingat 3 jenis mikrofon dan penggunaannya pada micing ampli gitar :

  • Dynamic

Dynamic adalah mikrofon yang menggunakan moving coil agar ia dapat bekerja. Suara menggetarkan moving coil untuk ditransformasikan menjadi energi listrik sebelum menjadi suara. Untuk micing amplifier gitar, jenis mikrofon ini paling umum digunakan. Teknik yang paling umum digunakan pada mikrofon dynamic adalah menaruh mikrofon secara on-axis, atau tepat di depan speaker dan biasanya menempel pada grill kabinet ampli. Tujuannya adalah untuk memperoleh midrange yang kaya dan  sound yang ‘bity’, khususnya untuk lead guitar. Teknik off-axis juga jamak dipakai untuk mendapatkan sound rhythm yang lebih tebal, khususnya pada amplifier solid state. Beberapa dynamic microphone memiliki sound ‘scoop’ (midrange yg dipotong) yang disukai beberapa gitaris seperti Sennheiser MD421, namun mikrofon seperti Lewitt MTP440, Shure SM57, Sennheiser e605 memiliki midrange yang kaya dan ‘bity’.

  • Condenser

Mikrofon kondenser bekerja dengan tambahan tenaga yang disebut phantom power. Untuk menggantikan moving coil, mikrofon kondenser menggunakan diafragma yang sensitif pada hi-frequency. Pada ampli gitar, mikrofon kondenser sering diposisikan secara on axis untuk medapatkan ‘airiness’ dari sound gitar. Beberapa gitaris menyukai mikrofon ini untuk sound yang lebih kasar, seperti Billie Joe Armstrong atau justru kebalikannya dengan memposisikannya secara off-axis seperti yang dilakukan Allan Holdsworth.

Contoh mikrofon kondenser yang populer untuk micing amplifier gitar : Neumann U87 dan AKG C214.

  • Ribbon

​Mikrofon jenis ini menggunakan pita logam sebagai pengganti diafragma, dan memiliki respon low-mid yang unik pada ampli gitar. Banyak orang menggunakan ribbon microphone untuk sound rhythm rock dan metal, dengan tujuan memperoleh punch dari frekuensi low-mid dari ampli gitar.

Contoh mikrofon ribbon yang populer untuk ampli gitar : Royer Labs R-121 & AEA R84.

 

4. Do or die – Tips!

  • Place a mic behind the amp!

Memiking bagian belakang ampli – terutama untuk ampli combo openback – sama sekali tidak merugikan! Banyak yang menggunakan ini untuk mendapatkan suara di dalam amplifier itu sendiri. Biasanya, menggunakan mikrofon dynamic dan diarahkan ke badan amplifier. Hasilnya adalah sound gitar yang lebih bervolume dari sekedar close micing di depan speaker.

  • Use cabinet simulator if necessary

Menggunakan cabinet simulator seperti Hughes & Kettner Redbox, Palmer PDI09 atau Radial JDX juga dapat menjadi solusi untuk mendapatkan sound yang lebih otentik. Teknik ini lazim digunakan dalam koridor musik populer saat ini, terlebih untuk rock dan metal yang membutuhkan sound gitar yang lebih tebal dan bertenaga.

  • Bereksperimen dengan mikrofon

Ini adalah hal paling menyenangkan sekaligus menjemukan, namun kadang kita mendapatkan hal keren yang tidak terduga – seperti menggunakan mikrofon kondenser pensil dgn polar pattern omnidirectional – dan menghasilkan sound baru yang unik dan sulit digantikan.

  • Overdub! Overdub! OVERDUB!

“Mas, aku mau sound gitar kayak Alterbridge!”

Bukan tidak mungkin, asal para engineer tidak menyerah untuk ‘memaksa’ para gitaris untuk melakukan overdub pada bagian rhythm. Misha Mansoor, gitaris dari Periphery, melakukan 8 kali overdub untuk satu part rhythm, demi sound ‘djent’ yang mampu menggetarkan hati kita bersama.

Akhir kata, ini sedikit pengetahuan tentang merekam gitar elektrik yang bisa kami share. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Jangan pula ragu untuk menghubungi kami di Audiostation jika anda membutuhkan barang-barang audio berkualitas.

Salam audio!